Goresan Mata Uang Sang Maestro Engraver, Pak Mujirun

Goresan Mata Uang Sang Maestro Engraver, Pak Mujirun

Indonesia mulai membuat ilustrasi untuk uang kertas sendiri pada masa Orde Lama. Ilustrasi pertama dilukis oleh Oesman Effendi dan Abdul Salam. Dengan kemajuan yang sangat pesat di bidang teknologi penerbitan dan ilustrasi maka pada tahun 1951 pelukis Oesman Effendi dan ilustrator Abdul Salam dikirim ke Belanda untuk mempelajari cara-cara membuat ilustrasi pada uang kertas, yang nantinya akan diajarkan di tanah air. Pada masa Orde Baru, ilustrator Indonesia berkembang pesat, terutama ilustrasi untuk buku cerita maupun buku pengetahuan dari berbagai penerbit. Ilustrator yang bekerja pada majalah atau koran terbitan Indonesia pada saat itu antara lain adalah :

* Heng Ngatung pada majalah Intisari

* Delsi Syamsumar pada majalah Varia

* G.M Shidarta pada harian Kompas

* Donarto Mulyadi W. Ipe Ma’ruf pada majalah Si Kuncung

* Teguh Santoso pada majalah Tanah Air

* Cahyono, Adi Permadi pada majalah Bobo

* S. Prinka pada majalah Tempo

* Prie G.S Gunawan pada harian suara Merdeka dan Cempaka.

Masing-masing ilustrator memiliki ciri khas tersendiri, baik dari tampilan gambar maupun tema yang dibuat. Misalnya saja, Jan Mintaraga banyak menghasilkan cerita yang berlatar belakang tradisional, seperti kisah pewayangan dan cerita klasik lainnya. Pada saat itu Indonesia sudah banyak melahirkan tangan-tangan handal dengan cipta rasa seni yang fantastis. Tak luput juga dalam menciptakan lukisan pada lembaran uang pemerintahan yang sah. Bila kita cermati, perancang atau pelukis uang kertas ini menuliskan nama mereka pada bagian muka sebelah kanan bawah yang disingkat “del”, yang berarti “delinavit” atau pelukis uang. Kata-kata ini hanya bisa dilihat jelas dengan kaca pembesar, seperti contoh berikut:

Ini adalah uang yang dilukis oleh Heru Soeroso.

Ternyata uang kertas yang mencantumkan nama pelukisnya tidak terlalu banyak. Dimulai dari tahun 1952 sampai sekitar 1980-an. Uang kertas yang berasal dari zaman penjajahan Belanda, Jepang hingga ORI (Oeang Republik Indonesia), tidak ada yang mencantumkan nama pelukisnya. Berikut adalah nama ilustrator dan desainer uang kertas yang dikeluarkan oleh Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri):

Yunalies

Lahir di Bukittinggi, 14 Juni 1924. Mulai bekerja di Peruri pada 1 Agustus 1955 hingga wafat di Jakarta, 10 September 1976. Hasil karya beliau cukup banyak, di antaranya adalah Seri Pekerja 1958, 1963, dan 1964. Salah satu masterpiecenya adalah Rp 10.000 bergambar relief Candi Borobudur dan Barong emisi 1975, seperti berikut:

Sadjiroen

Lahir di Kendal, 4 Maret 1931, mulai bekerja di Peruri pada 12 Desember 1955 sampai dengan 1 April 1987. Hasil karya beliau yang terkenal adalah seri Sudirman, mulai dari pecahan Rp 5 sampai dengan Rp 10.000, seperti berikut:

Risman Suplanto

Lahir di Magelang 13 September 1927. Bekerja di Peruri pada 16 Juli 1956 sampai dengan 1 Oktober 1984. Inilah salah satu karya beliau, pecahan Rp 500 emisi 1977:

Kemudian di era 70’an seorang maestro engraver (pengukir gambar) bernama Mujirun memulai untuk berkarya dengan lihai, yang hingga kini karya beliau masih kita nikmati dalam transaksi sehari-hari. Pria kelahiran 26 November 1958 ini mempunyai cerita menarik dalam memulai kisah hidupnya sebagai engraver. Mulai bekerja di Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri) tahun 1979 saat ia masih kuliah tingkat akhir di Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) Yogyakarta. Saat itu Peruri sedang mencari calon engraver atau pengukir gambar yang memang diperlukan dalam proses pembuatan uang kertas. Engrav merupakan proses pegamanan paling tinggi dalam pembuatan uang kertas. Mujirun disiapkan sebagai tenaga muda untuk mendampingi senior engraver di Peruri yang bernama Pak Sajirun. Kebetulan juga kedua engraver tersebut punya nama yang mirip. Sejak Sekolah Dasar, Mujirun memang sudah belajar melukis di sanggar lukisan yang diasuh langsung oleh Pak Murtoyo (alm) di BejiYogyakarta. Saat kelas 4 SD ia bahkan sudah mulai menjual karya seninya berupa wayang untuk sekedar mendapat uang jajan. Mujirun tertarik pada tawaran Peruri karena perusahaan tersebut menjanjikan akan menyekolahkannya ke luar negeri. Terlebih lagi gaji yang akan terima cukup memuaskan yaitu Rp50.000 per bulan. Sedangkan upah rata-rata kabupaten pada era 1970-an hanya Rp19.000 sebulan. Mujirun pun kemudian hijrah ke ibu kota. Tapi, beliau tak bisa langsung mengaplikasikan karyanya di Peruri. Ia harus menjalani pendidikan seni lagi. Bahkan hingga ke luar negeri. Mujirun berkesempatan untuk menempuh pendidikan di SwissItaliaInggrisHongaria dan Malaysia. Selain itu, selama dua tahun beliau belajar engrave di kantor dengan instruktur lulusan Belanda. Juga berkesempatan belajar di ISI serta ITB guna memperdalam teknik engraving pada uang kertas. Sepulang dari Italia, suami Siti Julaeha itu tak langsung mendapatkan kepercayaan membuat gambar-gambar di uang kertas. Kesempatan tersebut baru datang tiga tahun kemudian. Dia dipercaya untuk menggambar sosok pahlawan Teuku Umar yang digunakan pada uang kertas Rp5 ribu. Menurut Mujirun, selama ini pembuatan gambar uang itu dilakukan dengan proses seleksi yang ketat. Lima engraver Peruri diminta untuk menggambar secara manual dengan teknik pen drawing. Gambar-gambar tersebut kemudian diserahkan ke pimpinan BI. Begitu gambar disetujui, seniman yang membuat baru bisa mengerjakannya. Yang dikerjakan Pak Mujirun bukan pekerjaan mudah dan remeh. Engrave pada mata uang adalah salah satu pengaman mata uang, sehingga perlu dibuat serumit mungkin namun tetap menghasilkan gambar yang realistis. Proses kerja Pak Mujirun adalah menggambar diatas plat baja, kemudian ia mengukir gambar mata uang tersebut di atasnya. Pak Mujirun harus melakukannya secara perlahan, garis demi garis, teliti dan tidak ada kesalahan. Pelukis dengan teknik pena yang pernah melukis 13 uang kertas Indonesia ini menggunakan pisau baja dan alat ukir khusus berujung mirip huruf V serta alat pembesar gambar di uang kertas. Sedangkan untuk ukuran besar, beliau biasa menggunakan pena Rotring. Komposisi gambar seperti gelap terang, bayangan, hingga dimensi, dibedakan dengan ukiran garis pada pelat baja. Proses ini tidak boleh salah sedikit pun. Jika terjadi kesalahan, master cetakan akan rusak dan Pak Mujirun harus mengulang proses engrave dari awal.

Teknik engrave termasuk rumit; menggambar menggunakan pisau dengan teknik cukil. Sepintas mirip teknik mengukir. Namun, teknik engrave lebih sulit karena diaplikasikan di media yang kecil dengan skala satu banding satu. Bisa dibayangkan tingkat ketelitian dan presisi hasil kerja Pak Mujirun. Mengenai waktu pengerjaan uang kertas, beliau menghabiskan waktu 3 hingga 4 bulan, sedangkan untuk ukuran besar adalah 3 hingga 4 minggu. Salah satu karya Mujirun yang membanggakan adalah gambar uang seri “Pak Harto Mesem”. Sebab pembuatannya tidak hanya bersaing dengan engraver dari Peruri. Karyanya harus diadu dengan engraver dari luar negeri. Gambar sketsa wajah Pak Harto karya beliau dan karya engraver dari Australia terpilih untuk diserahkan ke Setneg (Sekretariat Negara) untuk dipilih salah satunya.

Mujirun dengan karya lukisan realisnya yang menggambarkan Presiden Soekarno bersama istri.

Tanpa diduga, pihak Istana Negara menjatuhkan pilihan pada karya Mujirun. Gambar “Pak Harto Mesem” itulah yang kemudian menghiasi uang Rp50.000 yang diterbitkan pada tahun 1995. Selain itu, ada beberapa karya Mujirun lain yang cukup fenomenal. Di antaranya, gambar pahlawan Sisingamangaraja XII di uang Rp1.000 (keluaran 1987), gambar rusa Cervus timorensis untuk uang Rp500 (1988), gambar anak Gunung Krakatau untuk uang Rp100 (1991), gambar Gunung Kelimutu untuk uang Rp5.000 (1991), Ki Hajar Dewantoro di uang kertas Rp20 ribu (1998), Paskibraka di uang Rp50 ribu (1999), gambar Kapitan Pattimura pada uang kertas Rp1.000, gambar Pulau Maitara dan Tidore Rp1.000, serta Tuanku Imam Bonjol Rp5.000 (ketiganya keluaran 2001).

Karya-karya yang sudah dihasilkan Pak Mujirun

Mujirun juga lah yang membuat gambar pahlawan Oto Iskandar Di Nata pada uang kertas Rp20.000 yang dikeluarkan pada tahun 2004. Sebelum pensiun, pria 55 tahun itu membuat gambar I Gusti Ngurah Rai untuk uang pecahan Rp50 ribu keluaran 2009. Jika diperhatikan, sangat terlihat dari hasil karyanya di uang pecahan kertas tersebut, bagaimana detail dan presisinya gambar wajah tokoh-tokoh di uang pecahan itu. Pak Mujirun membeberkan rahasianya, berlatih menggambar menurutnya melatih kepekaan rasa. Itulah kunci sukses Pak Mujirun,

dengan terus berlatih dan mengolah rasa. Semua gambar yang ia buat merupakan kumpulan arsiran garis yang kemudian bersatu membentuk gambar utuh. Pak Mujirun mencontohkan, ketika dia hendak membuat mata, dia membuat lingkaran dahulu sebagai pola awal. Kemudian dia membuat arsir, garis-garis kecil untuk membentuk mata, membuat mata tampak berdimensi dan akhirnya menghasilkan satu gambar mata utuh.

Cara pak Mujirun berlatih sketsa

Bergabung di Peruri diakuinya lebih merupakan tempat belajar yang juga mendapat gaji. Namun ketika usianya mencapai 50 tahun, persisnya pada tahun 2009, ia mengajukan ikut pensiun dini karena ingin kembali ke dunianya sendiri dan karena ingin lebih banyak berkarya di rumah. Dulu selain menjadi engraver, Pak Mujirun juga melukis lepas. Karya-karyanya dihargai tinggi karena tingkat kerumitan yang tinggi. Contohnya gambar Presiden SBY memiliki nilai sebesar 25 juta rupiah. Nilai itu wajar karena proses pembuatan lukisan dengan metode arsir ini butuh waktu lama dan ketelitian tinggi. Untuk 1 potret wajah seukuran A4, lama pengerjaannya adalah 1 bulan. Pun dengan teknik langka yang ia miliki, tentunya wajar jika lukisannya dihargai tinggi. Kini, bersama  sang istri tercinta Pak Mujirun tinggal menikmati hasil dari jerih payahnya. Lebih banyak menghabiskan waktu dengan bekerja di rumah. Untuk menopang hidup di masa pensiunnya, hasil dari membuat lukisan di rumah telah ia investasikan dalam bentuk beberapa rumah yang disewakan, ada sawah di Yogyakarta dan Bandung yang ditanami palawija, 10 rumah petak sehat di Ciledug yang disewakan pada pedagang bakso, batagor, sate. Juga ada kios di Jl Joglo yang menjual pigura, lukisan, jasa fotokopi dan menjual pulsa telpon. Beliau mengaku siap seumpama ada klien dari perusahaan yang membutuhkan jasa engrave-nya. Pak Mujirun dan isteri dikaruniai 2 anak laki-laki dan 3 anak perempuan. Anak sulungnya mengikuti jejak ayahnya belajar seni rupa di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Sebagai pelukis beraliran dasar realis, Mujirun juga makin aktif mendapat order lukisan. Selama sepuluh bulan terakhir saja dia sudah menyelesaikan lebih dari 20 lukisan. Mereka yang memesan lukisan juga beragam, mulai dari pejabat, pengusaha, pejabat kepolisian bahkan pelajar.

Pak Mujirun dengan gayanya yang santai

Kini Pak Mujirun sudah pensiun dari Peruri, menikmati hari tua di bilangan Ciledug dengan melukis dan berbagi ilmu kepada siapapun. Jika dianalogikan dalam ungkapan ajaran agama Hindu, Pak Mujirun sudah mencapai tahap Pandhita, menyepi dari riuh duniawi dan membagi ilmu kepada sesama. Sungguh sosok yang arif dengan nilai ilmu yang langka dan luar biasa penting untuk negara Indonesia tercinta ini. (pri)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s